Hulu Sungai Selatan (MTsN 2 HSS) – Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Hulu Sungai Selatan (HSS) tahun ini bukan sekadar ajang pergantian pengurus biasa. Pada Jumat (13/02/2026), madrasah ini berhasil menyuguhkan sebuah standar baru dalam pendidikan politik bagi pelajar melalui simulasi demokrasi yang terstruktur, profesional, dan mengadopsi penuh mekanisme Pemilihan Umum (Pemilu) nasional.
Jika biasanya pemilihan ketua OSIM di sekolah hanya bermodalkan kertas sobekan dan kotak kardus, MTsN 2 HSS tampil beda. Mulai dari tahapan persiapan, kualitas logistik, hingga struktur penyelenggara, semuanya dirancang detail untuk memberikan pengalaman nyata (real experience) bagi para siswa layaknya sedang berada di TPS Pemilu Presiden atau Kepala Daerah.
🗳️ Logistik Presisi Standar KPU
Keseriusan madrasah terlihat jelas dari kualitas logistik yang digunakan. Panitia Komisi Pemilihan Umum (KPU) Siswa tidak menggunakan kertas sembarangan. Mereka mencetak Surat Suara yang didesain presisi, lengkap dengan foto kandidat berwarna, nomor urut pasangan calon, serta spesifikasi lipatan yang menyerupai surat suara resmi KPU.
Aspek administratif juga diperhatikan dengan sangat ketat. Setiap pemilih (siswa) tidak bisa asal masuk. Mereka wajib membawa dan menyerahkan Surat Undangan Memilih (seperti formulir Model C6 dalam Pemilu) yang telah diverifikasi berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Hal ini mengajarkan siswa tentang pentingnya tertib administrasi dan validasi data dalam sebuah proses demokrasi.
👮 Alur TPS: Dari Ruang Tunggu Hingga Tinta
Pemandangan di TPS 02 yang berlokasi di halaman madrasah benar-benar mencerminkan suasana pemungutan suara sesungguhnya. Alur pemilihan diatur satu arah untuk menjaga ketertiban:
- Ruang Tunggu: Siswa duduk rapi mengantre panggilan, memisahkan area steril TPS dengan area umum.
- Meja Pendaftaran: Petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) memeriksa undangan dan mencocokkan dengan DPT.
- Bilik Suara: Terdapat bilik suara tertutup yang menjamin asas "Rahasia", di mana siswa bebas menentukan pilihan hati nuraninya.
- Kotak Suara: Surat suara yang telah dicoblos dimasukkan ke dalam kotak suara tersegel.
- Tinta Jari: Sebagai penutup, siswa mencelupkan jari ke tinta ungu, simbol sahnya partisipasi mereka.
Profesionalisme Penyelenggara Siswa
Keunikan lain yang menjadi nilai tambah adalah keterlibatan penuh siswa sebagai "motor" penggerak. Struktur penyelenggara dibentuk meniru lembaga resmi negara. Ada KPU Siswa yang merancang regulasi, PPS yang menjadi eksekutor teknis, hingga Saksi Paslon yang duduk menyaksikan jalannya pemilihan untuk memastikan tidak ada kecurangan.
Di bawah supervisi dewan guru, para petugas siswa ini bekerja dengan etos kerja tinggi. Mereka melayani pemilih dengan ramah namun tegas dalam menegakkan aturan. Bahkan, guru-guru pun ikut serta mengikuti alur yang ditetapkan panitia siswa saat menggunakan hak pilihnya.
🎓 Laboratorium Demokrasi Nyata
Penerapan sistem yang kompleks ini memiliki tujuan edukasi yang kuat. MTsN 2 HSS menjadikan momentum ini sebagai laboratorium demokrasi nyata. Dengan merasakan langsung atmosfer pemilihan yang mirip aslinya, siswa tidak hanya belajar teori Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di dalam kelas.
Mereka mempraktikkan langsung nilai-nilai integritas, ketelitian, antre dalam ketertiban, dan tanggung jawab sipil (civic responsibility). Harapannya, lulusan MTsN 2 HSS kelak akan menjadi pemilih cerdas dan warga negara yang sadar akan hak serta kewajibannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis.
(Rep: Humas / Ft: Dokumentasi Madrasah)